28 Februari 2013

HUSNUZAN



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,

        Arti kata husnuzan adalah baik sangka, dapat diartikan sebagai suatu perasaan hati yang selalu berbaik sangka, berpikiran jernih, tidak menaruh curiga atau syak wasangka.

        Islam mengajak umatnya agar selalu berbaik sangka terhadap siapapun termasuk kepada Allah Swt. Berbahagialah manusia yang selalu dapat berbaik sangka karena apa yang disangkakan di dalam hati akan mempengaruhi terhadap sikap dan cara berfikirnya.

1.       Husnuzan Terhadap Allah Swt.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqarah : 216).

“Aku mengikuti prasangka hambaKu terhadapKu, apabila dia baik sangka kepadaKu maka balasannya baik pula, namun jika dia buruk sangka kepadaKu maka balasannya buruk pula” (HR. Tabrani dan Ibnu Hibban).

Dengan menanamkan husnuzan terhadap Allah SWT., maka setiap manusia akan dapat memahami dan menerima semua pemberian Allah SWT. dengan hati yang tenteram, karena Allah SWT. mempunyai maksud yang baik terhadap ciptaanNya. Husnuzan kepada Allah SWT. adalah satu akhlak yang terpuji, dan dapat menimbulkan sikap – sikap :
a.       Selalu berharap atas karunia dan kasih sayang Allah SWT.
b.      Tidak pernah merasa jenuh dalam berupaya, bekerja dengan perasaan senang serta meyakini yang dilakukannya tidak menyimpang dari aturan Allah dalam rangka ibadah.
c.       Optimis, berusaha dengan semangat, dengan keyakinan bahwa Allah SWT. akan memberikan yang terbaik.
d.      Tidak mudah putus asa.
e.       Tenang dan tawakal dalam menghadapi hidup.

2.       Husnuzan Terhadap Diri Sendiri

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang – orang yang berbuat baik” (QS Al Ankabut : 69).

Husnuzan kepada diri sendiri akan menaruh kepercayaan dan keyakinan kepada dirinya bahwa ia mampu melakukan dan menghasilkan apa yang diinginkan. Keyakinan ini akan menimbulkan sikap percaya diri, meyakini kemampuan diri serta semangat dalam berupaya. Ia lebih peka terhadap mensikapi isyarat yang diberikan Allah SWT.

Sebagai makhluk terbaikNya, manusia memiliki jasad, akal dan budi, sehingga dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri, melakukan segala pekerjaan sebaik mungkin, gemar bekerja keras, tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan, selalu ingin maju, memiliki kepribadian yang kuat  dan tidak merasa rendah diri.

3.       Husnuzan Terhadap Orang Lain

“. . . . .Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan” (QS Al Maidah : 2).

“Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian kamu yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik terhadapnya dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah menerima tobat dan Maha Penyayang” (QS Al Hujurat : 12).

Beruntunglah manusia yang dapat selalu menilai manusia lain dengan positif, sehingga perilaku yang tidak menyenangkan  tidak akan membuatnya tersinggung, marah ataupun sakit hati, ia penuh toleransi (pemaaf). Akibatnya hidupnya akan dapat dijalani dengan penuh kenikmatan dan keberkahan, rukun dan damai, saling pengertian dan kasih sayang.
               
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.


Pustaka    :
-   Drs. M. Husein AS dkk., Pendidikan Agama Islam, SMA Kelas X, Dongpong Karya, 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar